SATUARAHNEWS- Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mulai mendorong modernisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi drone bantuan dari pemerintah pusat.
Bantuan tersebut disalurkan kepada petani melalui pengelolaan brigade pangan agar dapat dimanfaatkan secara kolektif. Langkah ini ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Bangka Selatan, Risvandika, mengatakan bantuan tersebut berasal dari Kementerian Pertanian dengan total tiga unit drone. Ia menyebutkan satu unit drone memiliki nilai sekitar Rp300 juta sehingga total bantuan mencapai ratusan juta.
Distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan wilayah dan kesiapan operator di lapangan.
“Alhamdulillah kami telah melakukan pembagian bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian sebanyak tiga unit drone dengan harga sekitar Rp300 juta per unit,” katanya Selasa (14/4/2026).
Menurutnya distribusi bantuan difokuskan pada beberapa wilayah sentra pertanian di Kabupaten Bangka Selatan. Dua unit drone ditempatkan di Desa Rias, Kecamatan Toboali. Sementara satu unit lainnya dialokasikan untuk Kecamatan Pulau Besar yang mencakup Desa Betumpang.
Bantuan ini menjadi bagian dari upaya percepatan transformasi teknologi di sektor pertanian daerah. Drone tersebut dirancang untuk mendukung kegiatan pertanian tanaman pangan, terutama dalam proses pemupukan dan penyemprotan. Penggunaan teknologi ini dinilai mampu menghemat waktu dan tenaga petani dibandingkan metode konvensional.
“Selain itu, teknologi ini juga mampu meningkatkan akurasi distribusi pupuk dan pestisida,” ujar Risvandika.
Guna memastikan pemanfaatan optimal, pemerintah menyerahkan pengelolaan drone kepada brigade pangan yang dapat melayani seluruh petani. Skema ini dipilih karena jumlah unit yang masih terbatas sehingga perlu digunakan secara bersama. Dengan demikian, akses terhadap teknologi ini diharapkan merata di kalangan petani.
Pihaknya telah menyiapkan sumber daya manusia untuk mengoperasikan teknologi tersebut melalui pelatihan intensif. Para operator dan pengelola telah mengikuti pelatihan selama tujuh hari di Tangerang sebelum kembali ke daerah. Saat ini, para operator tengah melakukan uji coba di lapangan guna meningkatkan keterampilan mereka. (Dika)
