Oleh: Eko Septianto Rasyim, S.I.Kom (Geboy)
Jurnalis TVRI Bangka Belitung
Pangkalpinang, 26 Juni 2026
Ada satu kelompok kecil di tubuh Kepolisian yang jarang disebut ketika publik berbicara tentang keberhasilan sebuah pengungkapan kasus, pengamanan unjuk rasa, penanganan bencana, ataupun pelayanan kepada masyarakat. Mereka tidak berdiri di podium menerima penghargaan. Wajah mereka juga jarang menghiasi pemberitaan.
Namun hampir setiap hari, hasil kerja mereka hadir di hadapan jutaan pasang mata.Mereka adalah insan Humas Polri.
Sebagai jurnalis kriminal, saya terbiasa melihat sisi lain dari sebuah peristiwa. Di balik garis polisi, di balik konferensi pers, di balik pengungkapan kasus besar, saya juga melihat orang-orang yang terus bekerja tanpa banyak bicara. Mereka memanggul kamera ketika anggota lain memanggul senjata. Mereka membawa laptop ketika personel lain membawa perlengkapan pengamanan. Mereka berlari mengejar sudut terbaik sebuah peristiwa, bukan demi popularitas, melainkan agar masyarakat mengetahui fakta yang sebenarnya.
Di situlah saya memahami bahwa Humas Polri bukan sekadar bagian administrasi yang bertugas mengirim siaran pers.Mereka adalah penjaga kepercayaan.
Saya masih mengingat berbagai perjalanan liputan selama bertahun-tahun. Ketika banjir merendam permukiman warga, mereka ikut menerobos genangan air bersama personel yang mengevakuasi korban. Saat kebakaran melahap rumah-rumah penduduk, mereka berada di antara kepulan asap untuk mengabadikan perjuangan anggota yang membantu masyarakat.
Ketika malam semakin larut dan masyarakat telah beristirahat, pekerjaan mereka justru sering kali baru dimulai.Ratusan foto harus dipilih. Puluhan video harus disunting. Data harus diverifikasi. Narasi harus disusun dengan cepat, tetapi tetap akurat. Semua dikerjakan agar informasi yang diterima masyarakat bukan sekadar cepat, melainkan benar.
Saya melihat sendiri bagaimana pekerjaan itu sering dilakukan dalam keterbatasan.Masih ada personel humas yang mengandalkan telepon genggam pribadi. Kamera sederhana menjadi teman setia di lapangan. Sinyal internet yang putus-putus bukan alasan untuk menyerah. Bahkan di beberapa daerah, mereka harus mencari titik jaringan hanya untuk mengirim satu video agar publik segera mengetahui situasi sebenarnya.
Tidak banyak yang mengetahui perjuangan itu.Yang terlihat publik hanyalah foto yang sudah rapi, video yang sudah selesai diedit, atau berita yang sudah terbit di berbagai platform media.Padahal di balik semua itu ada kerja yang tidak mengenal jam dinas.
Di era digital seperti sekarang, tantangan Humas Polri jauh lebih berat dibanding beberapa tahun lalu. Informasi bergerak tanpa batas. Satu potongan video dapat menyebar dalam hitungan menit. Sebuah narasi yang belum tentu benar bisa membentuk opini sebelum fakta sesungguhnya hadir.
Dalam situasi seperti itulah Humas Polri memikul tanggung jawab besar.Mereka harus menjadi yang tercepat tanpa mengorbankan kebenaran. Mereka harus menjadi yang paling tenang ketika isu berkembang liar. Mereka harus memastikan setiap informasi yang keluar telah melalui proses verifikasi sehingga tidak menyesatkan masyarakat.
Bagi saya sebagai jurnalis, pekerjaan itu tidak mudah.
Kami sama-sama mengejar waktu. Kami sama-sama mengejar fakta. Bedanya, kami berasal dari organisasi yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menyampaikan informasi yang benar kepada publik.
Karena itu, selama menjalankan tugas peliputan, saya melihat hubungan antara jurnalis dan Humas Polri bukan sekadar hubungan narasumber dengan media. Kami adalah rekan seperjuangan yang sama-sama mengemban amanah profesi.
Kami sering berdiri di lokasi yang sama.Merasakan panas matahari yang sama.Diguyur hujan yang sama.Menunggu proses evakuasi yang sama.
Bahkan terkadang pulang ketika matahari berikutnya mulai terbit.Di tengah semua itu, saya menyaksikan satu hal yang tidak pernah berubah.
Humas Polri tidak hanya mendokumentasikan keberhasilan organisasi. Mereka juga menjadi wajah komunikasi institusi. Mereka menjelaskan kebijakan kepada masyarakat, meluruskan informasi yang keliru, membangun ruang dialog, sekaligus menjadi jembatan antara Polri dan publik.
Bagi mereka, sebuah foto bukan sekadar gambar,Sebuah video bukan sekadar konten.sebuah berita bukan sekadar tulisan.Semuanya adalah rekam jejak pengabdian.
Saya percaya kepercayaan publik tidak lahir hanya dari slogan atau kampanye. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi, keterbukaan, dan keberanian menyampaikan fakta apa adanya.
Di situlah peran Humas Polri menjadi sangat penting.Mereka memastikan setiap kerja kemanusiaan anggota Bhayangkara tidak hilang ditelan derasnya arus informasi. Mereka memastikan masyarakat mengetahui bahwa di balik seragam yang dikenakan anggota Polri, ada begitu banyak cerita tentang pelayanan, pengabdian, dan pengorbanan.
Mungkin nama mereka tidak selalu disebut.Mungkin wajah mereka jarang tampil di depan kamera.Namun karya mereka terus berbicara.Melalui foto-foto yang mengabadikan ketulusan.Melalui video-video yang menginspirasi.Melalui narasi yang menghubungkan institusi dengan masyarakat.
Sebagai seorang jurnalis kriminal, saya menaruh hormat kepada mereka.Kepada para insan Humas Polri yang memilih bekerja dalam senyap.
Yang rela berada di belakang lensa agar pengabdian rekan-rekannya dapat dilihat masyarakat.Yang terus menjaga marwah organisasi melalui komunikasi yang jujur, cepat, dan bertanggung jawab.
Tulisan ini mungkin sederhana.Namun sebagai insan pers yang selama ini menyaksikan langsung perjalanan mereka di lapangan, saya ingin meninggalkan satu catatan.
Bahwa di balik setiap berita tentang polisi yang menolong warga, di balik setiap video yang menginspirasi, dan di balik setiap informasi yang sampai ke ruang publik, selalu ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak meminta pengakuan.
Mereka mungkin tidak dikenal banyak orang.Namun mereka adalah pahlawan di balik layar yang menjaga agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi tetap hidup.
Selamat Hari Bhayangkara ke-80.
Terima kasih kepada seluruh insan Humas Polri, khususnya keluarga besar Humas Polda Kepulauan Bangka Belitung dan Humas Polres jajaran.
Teruslah berkarya.
Teruslah menjaga kepercayaan.
Karena di balik setiap lensa yang kalian arahkan, tersimpan harapan masyarakat agar kebenaran selalu menemukan jalannya.

