Ditengah Dinamika Pertambangan, MUI Babel Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas

 

PANGKALPINANG — Di tengah dinamika pertambangan timah yang berkembang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bangka Belitung mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangka Belitung, Profesor Hatamar Rasyid mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas serta membangun pola pengelolaan sumber daya alam yang ideal dan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Menurutnya, dinamika pertambangan timah yang berkembang saat ini perlu disikapi dengan tenang dan tidak menjadi sumber konflik baru. Dialog antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah dinilai menjadi langkah penting untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang muncul.

“Timah merupakan kekayaan alam yang perlu dikelola dengan baik karena menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Bangka Belitung. Di sisi lain, pengelolaannya juga harus memperhatikan kepentingan negara dan kelestarian lingkungan,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan tertentu. Berbagai persoalan terkait pertambangan, menurutnya, sebaiknya diselesaikan melalui dialog antara masyarakat, PT TIMAH dan pemerintah.

“Kami dari MUI Provinsi Bangka Belitung mengajak masyarakat untuk berpikir tenang dan tidak terprovokasi dengan kepentingan-kepentingan yang ada. Segalanya itu didialogkan dengan PT TIMAH. Kita budayakan dialog dan musyawarah untuk kemaslahatan bersama,” pesannya.

Hatamar juga mengingatkan agar masyarakat tidak memilih tindakan yang berpotensi menimbulkan konflik. Menurutnya, komunikasi antara masyarakat, PT TIMAH, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat perlu terus dibangun agar setiap pihak memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai pengelolaan sumber daya timah.

“Jadi sebaiknya memang harus ada pembahasan antara PT TIMAH dan masyarakat. Tentu ada pembahasan yang dibawa dari pusat dan PT TIMAH itu sendiri, sehingga masyarakat dapat menerima penjelasan yang lebih jelas,” ujarnya.

Hatamar berpandangan bahwa sumber daya timah merupakan kekayaan alam yang harus dikelola secara baik dan bertanggung jawab lingkungan. Karena itu, aktivitas pertambangan menurutnya tidak semestinya menjadi sumber konflik di tengah masyarakat.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga menjaga ekosistem dan mencegah kerusakan lingkungan.

“Perlu duduk bersama dan membudayakan dialog serta musyawarah untuk kemaslahatan bersama, dengan tetap menjaga lingkungan,” tutupnya. (*)

Comments (0)
Add Comment