SATUARAHNEWS- Dampak musim kemarau panjang dan karhutla, mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di wilayah Bangka Selatan.
Dimana kasus ISPA pada bulan Juni 619 kasus dan meningkat menjadi 1.013 kasus pada Juli 2026. Hal ini menunjukkan adanya lonjakan kasus ispa sebesar 63 persen dari hari biasanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan Slamet Wahidin mengatakan, naiknya kasus ISPA menggambarkan kondisi udara di wilayah Bangka Selatan tidak bagus, hal ini diakibatkan dari kemarau panjang dan karhutla yang sedang terjadi saat ini.
” Karena di musim kemarau itu biasanya suhunya tinggi, jadi udaranya tidak lembap sehingga debu-debu itu mudah berterbangan. ISPA bisa diperburuk dengan keadaan situasi udara kita, apakah bentuknya polusi, misalnya seperti kebakaran hutan,” jelasnya, Sabtu (05/09/2026)
Menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung, Slamet mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap paparan debu dan asap selama musim kemarau. Masyarakat terutama diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
” Saat angin kencang membawa debu atau ketika udara terpapar asap akibat karhutla maupun sumber lainnya. Langkah tersebut penting untuk mengurangi paparan langsung terhadap saluran pernapasan di tengah kondisi cuaca yang kering,” tutupnya (Dika)