SATUARAHNEWS- Tiga orang bayi bawah lima tahun (Balita) di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dilaporkan menjadi suspek campak pada triwulan pertama 2026.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya kejadian campak secara nasional. Meski belum berstatus kejadian luar biasa alias KLB, temuan tersebut menjadi peringatan serius bagi sektor kesehatan daerah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, bilang terdapat tiga kasus suspek campak di daerah itu di tengah KLB campak yang terjadi di Indonesia.
Kasus tersebut seluruhnya menimpa balita dan saat ini masih dalam penanganan medis di dua rumah sakit daerah. Meski demikian, pemerintah daerah memastikan belum terjadi KLB campak di wilayah ini.
“pada tahun 2026 ini memang di Indonesia terjadi KLB campak, namun di Kabupaten Bangka Selatan tidak terjadi KLB campak,” kata dia Selasa (7/4/2026).
Slamet Wahidin mengungkapkan, dari tiga kasus yang dilaporkan, dua pasien dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Junjung Besaoh dan satu lainnya di RSUD Kriopanting. Ketiganya merupakan balita dengan rentang usia 10 bulan hingga 4 tahun yang kini masih menjalani perawatan intensif. Pemeriksaan lanjutan juga tengah dilakukan untuk memastikan diagnosis melalui uji laboratorium. Pihaknya telah mengirim sampel darah pasien suspek campak ke laboratorium pusat sejak beberapa waktu lalu.
Hingga kini pemerintah daerah masih menunggu hasilnya apakah positif atau negatif campak. Kasus campak yang ditemukan ini menjadi perhatian serius karena menyerang kelompok usia rentan. Balita diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi campak, terutama jika belum mendapatkan perlindungan imunisasi. Selain itu, kondisi daya tahan tubuh anak yang belum sempurna membuat potensi komplikasi menjadi lebih besar.
“Rata-rata kasus campak ini dialami oleh balita dengan usia empat tahun, dua tahun, dan sepuluh bulan,” papar Slamet Wahidin.
Adapun penyakit campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Penularannya terjadi sangat cepat melalui percikan ludah (droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini menyerang saluran pernapasan dan menyebar melalui udara, atau melalui kontak langsung dengan cairan hidung maupun tenggorokan
Selain mudah menular, campak juga berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik. Dalam beberapa kasus, pasien yang dirawat inap dapat mengalami gangguan lanjutan seperti pneumonia yang berisiko menyebabkan kematian. Namun hingga saat ini, belum ada laporan kematian akibat campak di Bangka Selatan.
“Ketika dilakukan rawat inap bisa muncul komplikasi seperti pneumonia, tetapi sejauh ini belum ada kematian akibat campak di daerah kita,” tutupnya (Dika)