SATUARAHNEWS – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mulai mengoptimalkan penggunaan drone sebagai langkah awal menuju modernisasi pertanian khususnya di berbagai wilayah sektor pertanian.
Tiga unit drone siap dioperasikan untuk mendukung aktivitas pertanian. Penggunaan teknologi ini menandai perubahan pola kerja petani dari metode konvensional menuju sistem berbasis teknologi.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, berujar penerapan drone menjadi tonggak awal transformasi pertanian di daerah tersebut, meski jumlahnya masih terbatas, pemanfaatan alat ini sudah mulai dijalankan di lapangan.
“Ini menjadi langkah awal kita dalam menggunakan teknologi drone untuk sektor pertanian,” ujarnya di Toboali jumat(27/03/2026)
Menurutnya drone yang diterima saat ini difokuskan untuk tahap uji coba sekaligus pelatihan operator. Pemerintah sebelumnya mengusulkan 15 unit drone untuk memenuhi kebutuhan di berbagai wilayah pertanian. Namun, tiga unit yang tersedia dimaksimalkan terlebih dahulu untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia.
Pemanfaatan drone mulai diterapkan di Desa Rias, Kecamatan Toboali dan Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar. Kedua wilayah ini dipilih sebagai lokasi awal penerapan teknologi pertanian modern. Hasil dari uji coba ini akan menjadi dasar evaluasi sebelum penggunaan diperluas.
“Untuk sementara kita fokuskan di dua desa sebagai percontohan,” ucap Risvandika.
Dalam praktiknya, drone digunakan untuk pemupukan dan penyemprotan tanaman. Teknologi ini memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat dibandingkan metode manual. Selain itu, hasil penyemprotan menjadi lebih merata dan tepat sasaran. Selanjutnya, distribusi drone akan disesuaikan dengan potensi lahan sawah di masing-masing wilayah.
Sejumlah wilayah yang masuk dalam rencana pengembangan antara lain Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Desa Pergam, Kecamatan Airgegas, serta beberapa wilayah lain di Kecamatan Pulau Besar. Pemerataan ini targetnya mampu mendorong peningkatan produksi pangan secara menyeluruh.
“Nantinya akan dibagi sesuai potensi wilayah sawah yang ada,” katanya.
Meski begitu kata Risvandika bantuan drone tersebut pada prinsipnya diperuntukkan bagi brigade pangan. Namun demikian, pemanfaatannya tetap dapat diakses oleh petani secara luas di Kabupaten Bangka Selatan. Skema penggunaan masih terus dikaji, termasuk terkait biaya operasional dan sistem penyewaan. Pasalnya, drone menjadi barang baru dan menggunakan operator khusus, mekanisme penggunaannya masih perlu pelajari. (Dika)