Lugas dan Berimbang

- Advertisement -

Melestarikan Permainan Tradisional 90an Yang Mulai Hilang

0 11

Permainan tradisional era 1990-an kembali dihadirkan di Alun-alun Simpang Lima Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (18/9/2026) malam.

Kegiatan yang digagas para penggiat literasi bersama Komunitas Literasi, Budaya dan Seni (LIBAS) itu mengajak anak-anak mengenal kembali permainan yang pernah populer di tengah masyarakat. Pemerintah daerah melihat kegiatan tersebut bukan sekadar nostalgia, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata lokal.

Sejumlah anak-anak tampak berlarian di sekitar Alun-alun Simpang Lima Toboali. Sebagian sibuk melompat mengikuti gerakan tali karet yang diputar teman-temannya, sementara yang lain mencoba bermain hula hoop dan biji saga. Gelak tawa terdengar ketika ada yang gagal melompati tali atau holahop terlepas dari putaran.

Di tengah keramaian itu, sejumlah orang dewasa ikut bergabung dalam permainan. Mereka mencoba kembali permainan yang pernah dimainkan saat masih kecil, sementara anak-anak memperhatikan dan ikut tertawa. Suasana alun-alun pun terasa ramai oleh permainan sederhana yang mempertemukan anak-anak dan orang dewasa.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bangka Selatan, M. Zamroni, mengatakan kegiatan permainan tradisional memberikan edukasi positif bagi anak-anak. Pengenalan permainan yang diwariskan secara turun-temurun penting dilakukan di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin dekat dengan gawai. Pemerintah daerah pun mengapresiasi inisiatif para penggiat literasi, budaya dan permainan tradisional dalam menghidupkan kembali permainan lokal.

“Ini untuk kita memberikan semangat pada generasi kita mengingat pada permainan-permainan tradisional yang sudah turun-temurun,” katanya, Sabtu (19/9/2026).

Zamroni mengungkapkan sejumlah permainan tradisional diperkenalkan dalam kegiatan tersebut dengan melibatkan masyarakat dan anak-anak. Permainan yang digelar antara lain yeye, rujak, kutik, hago, samso dan hula hoop. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak jenis permainan tradisional yang pernah dimainkan masyarakat Bangka Selatan seperti tamat, pilun dan lain-lain.

Menurutnya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut dinilai masih cukup tinggi karena permainan yang dihadirkan memiliki keterkaitan dengan pengalaman masyarakat pada masa lalu. Zamroni menyebut permainan tradisional dapat menjadi ruang bagi generasi yang lebih tua untuk mengenang aktivitas yang familiar pada era 1980-an hingga 1990-an. Di sisi lain, suasana tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak-anak usia sekolah untuk mengenal permainan yang mulai jarang dimainkan.

“Kami dari sisi pemerintah daerah melihat antusiasme masyarakat masih tinggi akan permainan tradisional ini,” jelas Zamroni.

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga melihat permainan tradisional dapat dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan pelestarian budaya. Permainan khas daerah yang dikemas dalam kegiatan masyarakat berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata lokal. Konsep tersebut sekaligus membuka ruang bagi penggiat literasi dan budaya untuk mengembangkan kegiatan yang memiliki unsur edukasi serta kearifan lokal. (Dika)

Leave A Reply

Your email address will not be published.