PANGKALBULUH – Di sudut Desa Pangkalbuluh, sebuah bangunan yang dulu tampak sepi dan nyaris terlupakan kini kembali hidup. Tawa warga mulai terdengar, anak-anak muda berkumpul menikmati akses internet gratis, sementara pelaku usaha lokal mulai melihat peluang baru untuk memasarkan produknya.
Perubahan itu lahir dari sebuah gagasan sederhana namun penuh makna. Kepala Desa Pangkalbuluh, Marjan, bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), memilih tidak membiarkan aset desa terus terbengkalai. Bangunan yang sebelumnya tak lagi difungsikan disulap menjadi Kafe BUMDes Pangkalbuluh, sebuah ruang publik yang bukan hanya menghadirkan suasana baru, tetapi juga membawa harapan baru bagi perekonomian desa.
Bagi Marjan, aset desa bukan sekadar bangunan yang berdiri di atas tanah milik pemerintah desa. Di baliknya terdapat potensi yang harus dihidupkan agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami tidak ingin aset desa ini terbengkalai begitu saja. Karena itu, bersama BUMDes kami berinisiatif memanfaatkan bangunan yang sebelumnya tidak difungsikan menjadi sebuah kafe yang dapat menjadi tempat berkumpul dan bersantai bagi masyarakat dengan free wifi,” ujar Marjan.
Setiap sore, suasana di kafe mulai ramai. Warga datang untuk menikmati suasana santai, berdiskusi, hingga memanfaatkan jaringan internet gratis yang tersedia. Tempat ini perlahan menjadi ruang pertemuan lintas generasi, mulai dari pelajar, pemuda, hingga orang tua.
Namun, bagi Pemerintah Desa Pangkalbuluh, tujuan utama pembangunan kafe ini jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan tempat nongkrong. Kafe tersebut dirancang sebagai salah satu motor penggerak ekonomi desa melalui pengelolaan oleh BUMDes.
Dengan sistem tersebut, keuntungan yang diperoleh tidak berhenti pada pengelola semata, melainkan diharapkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan pengembangan berbagai program pembangunan desa.
Tak hanya itu, keberadaan kafe juga membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk-produk lokal kepada pengunjung. Kehadiran mereka diharapkan mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di tingkat desa.
“Ke depan kami akan terus mengembangkan fasilitas ini agar tidak hanya menjadi tempat tongkrongan, tetapi juga menjadi ruang berkegiatan bagi masyarakat, komunitas, dan pelaku UMKM. Harapan kami, keberadaan kafe ini mampu menghidupkan perekonomian desa dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” tutur Marjan.
Transformasi bangunan kosong menjadi ruang produktif tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Dengan kreativitas, kemauan, dan pengelolaan yang tepat, aset yang semula tidak bernilai dapat berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus sumber ekonomi baru.
Langkah yang dilakukan Pemerintah Desa Pangkalbuluh juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi desa. Melalui pengelolaan profesional oleh BUMDes, aset desa tidak hanya terawat, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.
Kini, Kafe BUMDes Pangkalbuluh bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia telah menjelma menjadi simbol perubahan—bahwa sebuah bangunan yang dulu terbengkalai dapat dihidupkan kembali menjadi ruang yang menyatukan warga, menggerakkan UMKM, membuka peluang kerja, dan menghadirkan optimisme baru bagi masa depan Desa Pangkalbuluh.